Selasa, 13 Desember 2016

M. Aditya Salam



WARNING!

“Bacalah tulisan ini. tapi.... pada saat mempunyai banyak waktu luang saja ya.
Bacalah dengan tulus, sabar, sambil menghayati...dan diulang-ulang"




 Mau baca ?

Serius?

Yakin?

Bisa fokus?
 
Ikhlas ya?
  

Heemmmm... Oke. yasudah. 
Kalau masih tetap mau membaca, 


Silahkan... Tanpa paksaan, 

Selamat Membaca :)




Assalamu’alaikum. Wr.Wb

Tanpa Perkenalan.

Awal bertemu dengan IPM hanya kebetulan, tidak ada rencana sejak awal. Setelah tamat SMP aku berniat untuk masuk SMK atau STM yang terkenal di kota Palembang. Terkenal karena sekolah itu begitu ditakuti oleh pelajar di Palembang karena suka rusuh dan tawuran. Yah, harap maklum anak SMP memang suka mencari sensasi dan eksistensi begitupun aku waktu itu.

Saat menceritakan keinginanku untuk masuk ke sekolah tersebut, banyak saudara dan keluarga yang menolak termasuk kedua orang tua. Aku benar-benar merasa gundah dan putus asa, karena jika itu tidak terwujud aku tidak bisa berkumpul lagi bersama teman-teman SMP.

Kenapa orang tua menolak keinginanku? Karena kakak kandungku sudah menjadi bukti. Cukup kakakku saja yang diberhentikan dan pindah dari sekolah itu karena sering terlibat tawuran dan bolos sekolah.

Aku sudah mencoba untuk meyakinkan bahwa aku takkan berbuat demikian! Namun lagi lagi tetap tidak dipenuhi. Akhirnya, kakakku mencoba untuk menasehati dan menceritakan tentang penyesalannya waktu itu. Ia pun menyarankanku untuk bersekolah di SMK Muhammadiyah 1 di balayudha. aku sedikit tertarik, karena disekolah tersebut ada jurusan baru yaitu Teknik Komputer & Jaringan. Ya, sesuai dengan kebiasaanku yang suka begadang diwarnet sambil bermain game online. Ditambah lagi katanya, “disitu banyak ceweknya" yah, ini semakin menambah semangatku untuk merubah keinginan sebelumnya.
 
Namun kucoba untuk berpikir lagi kenapa harus bersekolah di Muhammadiyah? kan Muhammadiyah itu? Lebaran duluan, puasa duluan, dan sebagainya. Sempat membuatku bingung dan resah! Selain itu orang tua pun memberi saran agar lebih baik masuk ke sekolah negeri saja sekolahnya berkualitas dan dijamin, tidak seperti swasta. Tidak perlu pikir-pikir masalah biaya yang mahal, sekolah negeri gratis! Katanya. Ketika banyak pilihan seperti inilah yang membuatku menjadi bimbang. Aku tak tau mana saran yang lebih baik, ikuti keinginanku sendiri, kakakku, atau orangtuaku.

Kucoba pertimbangkan dan aku meminta saran dengan teman-temanku yang lain, mereka menjawab "Ikuti saja apa kata orangtuamu dit. Itulah pilihan yang terbaik" namun, ada juga yang berkata "Dit, ini hidup kamu. Kamu yang menjalani kamu yang harus memilih! Aku tidak bisa menetapkan pilihan." Kemudian tiba-tiba ada yang langsung menyambar pembicaraan "Yang sekolah ini kamu dit, bukan orangtuamu. Ya, ikuti keinginanmu lah!"

Malam pun tiba, ku coba berhenti sejenak untuk beristirahat, membuang rasa lelah sambil duduk bersandar didinding kamar. Mencoba menghela nafas, merasakan segar udara malam sunyi. ditemani iringan lagu sendu ku putar lagu “Peterpan - Semua Tentang Kita”. Sambil mencoba merenungi mengingat dan terbang sekejap 'kembali' masa itu! 

Teringat... 

Waktu yang telah aku habiskan selama 9 tahun lamanya di bangku sekolah.

Aku pernah sempat bersekolah di “TK Harapan Kita” tempatnya tepat didepan lorong rumahku. namun tidak begitu lama, hanya setengah periode saja. Yang masih aku ingat sewaktu itu, aku berhenti karena dicubit Ibu guru sebab suka makan sewaktu belajar dan akhirnya berhenti begitu saja.

Waktu SD aku bersekolah di “SDN 113 Palembang” aku termasuk siswa yang sering membuat permasalahan disekolah. Mulai dari bolos, meminta uang dengaan paksa ke siswa-siswa yang lain, sampai berkelahi. Aku juga sudah mulai merokok sejak kelas 2 SD. Berawal dari iseng-iseng membuat rokok mainan dari kertas, merambat ke rokok puntungan, rokok sokongan, rokok joinan, sampai beli rokok dengan uang jajan.

Perbuatan nakalku berusaha aku sembunyikan, agar tidak diketahui oleh guru dan orang tuaku.
Namun selalu saja ketahuan, sehingga orang tuaku hampir setiap bulan dipanggil ke kantor.
Aku juga mempunyai saudara tiri. Waktu itu kami masih tinggal serumah. Sama ia juga nakal, kami sering bersama berbuat onar disekolah dan bahkan tak jarang malah kami berdua yang berkelahi. 

Namun selain itu, aku juga pernah mewakili sekolah sebagai Peserta Lomba Gerak Jalan, juga pernah diutus untuk mengikuti lomba Melukis tingkat SD se-Kota Palembang. Alhamdulillah (belum) menang. Ingat! Belum menang, bukan tidak menang. Yah, bagiku itu tidaklah memalukan. Mungkin itu kemenanganku yang tertunda.

Aku juga sempat Aktif di SSB atau Sekolah Sepak Bola “Limas” dan Karate. Namun akhirnya berhenti karena tidak punya sepatu bola dan seragam karate.

Wali kelas juga sering menunjukku sebagai ketua kelas dan pemimpin upacara tiap hari senin. dengan harapan, aku dapat berubah dan belajar jadi pemimpin. 

Kisahku, tidak semuanya menakutkan ada juga yang mengharukan.

Aku pernah jualan koran, pernah menjual tekwan, bahkan pernah coba-coba jadi penjual barang bekas alias pemulung. Namun tidak lama, karena ketahuan dan dimarahi habis-habisan oleh orangtuaku!
Tapi bagiku, itu petualangan yang luar biasa.

Nah, ada cerita menarik! Aku pernah berjualan Lotre dikelas. Pembelinya adalah teman-teman dikelasku! Saat itu, banyak teman-temanku yang sudah hampir habis uangnya. namun tak kunjung mendapatkan hadiah. Ada salah satu temanku Nandito namanya. Ia sudah habis uang 6.000 rupiah dan akhirnya mendapatkan hadiah “Yoyo”. Ia sangat bergembira saat itu. Namun sayang, ditengah kegembiraannya saat itu tiba-tiba Yoyo yang diberi sekejap langsung ditolaknya. Tau kenapa? Karena Yoyo yang kuberi tidaklah sesuai dengan harapannya yaitu Mainanan Yoyo yang dijual dipasaran, harganya berkisar 15rb-an. Namun... Yoyo yang kuberikan adalah Yoyo hadiah dari Chiki Tsubatsa harga 500an (jajanan masa kecil). Ia pun marah-marah dan minta dikembalikan uangnya!

Kebiasaan sejak SD terus berlanjut sampai SMP, lagi-lagi aku sering dipanggil ke kantor. Karena rambut poni panjang, rambut mohawk, rambut dibatik, pakai ikat pinggang berkepala besi, celana lancip, memakai topi bebas, dan sering melanggar aturan sekolah.

Di SMPN 53 Palembang! Aku mengenal lingkungan dan teman yang membuatku merasa nyamanan dan mempunyai rasa persahabatan yang tinggi. disinilah aku mulai mengenal rasa solidaritas dan loyalitas. Termasuk disinilah awalku mengenal minuman alkohol! Biasanya teman-temanku patungan untuk membeli minuman dan itu dilakukan ketika pulang sekolah ditempat nongkrong. Biasanya, kami nongkrong di warung dan meja billiyard. ditempat itu juga kami sering bolos sekolah.

Ada kejadian lucu, teman yang sering bersamaku berangkat ke kesekolah, pernah ketahuan membawa rokok sebungkus dan ia dihukum dibawah tiang bendera, sambil mengangkat rokok. Yang ironisnya lagi, itu terjadi saat upacara berlangsung dihadapan ratusan siswa dan guru. Itu! yang membuat nyali ku ciut melihatnya!

Aku juga pernah Aktif diberbagai Komunitas–komunitas hingga sampai pada Suporter Sepakbola. Aku semakin banyak mengetahui dunia luar yang begitu bebas.

Namun aku berusaha untuk memberi batasan-batasan agar tidak terlalu jauh mengikuti alur dan menyimpang.  
Di berbagai kelompok tersebut aku termasuk salah satu orang yang berpengaruh, karena sebagai pengelola media sosial sekaligus sering membuat desain dan logo.

Selain itu juga, anak-anak di komunitas merasa terbuka dan nyaman untuk bercerita denganku mengenai berbagai masalah yang sedang dialaminya. Mulai dari masalah teman, masalah sekolah, masalah cinta, sampai masalah keluarga broken home. Disinilah aku mempunyai peran penting, dan mempunyai pandangan yang berbeda dari masyarakat pada umumnya terhadap kaum marjinal. Mungkin pada umumnya banyak yang menganggap mereka bagaikan sampah masyarakat atau anak buangan dan sebagainya. Namun yang kutahu, sekeras dan senakal apapun mereka masih ingin berubah dan ingin menatap masa depan yang cerah. Hanya saja mereka masih butuh pendamping untuk memulainya.

Di dunia suporter, aku mulai aktif sejak kelas 6 SD dan terus berlanjut sampai tamat SMP. Banyak pengalaman yang dapat ambil sebagai pelajaran. Saat itu aku sangat fanatik dengan tim sepak bola kesayangan warga Sumatera Selatan yaitu “Sriwijaya FC” bermula dari nonton di televisi hingga keinginan menonton secara langsung di Stadion, itu terwujud saatku bergabung dengan "Astro Mania" Korwil Pertama dan Tertua dari kelompok supporter Sriwijaya Mania atau S-MAN. Disinilah aku belajar berorganisasi, belajar memanajemen massa, membuat koreo – koreo yang super kreatif, sampai menyanyikan yel-yel yang membakar semangat. 

Semua lagu supporter aku hafalkan, atribut kaos, topi dan syal pun aku beli dengan uang jajan yang ditabung demi keserasian dan kekompakan bersama! bahkan kami sering bolos sekolah demi menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC di Gelora Sriwijaya Jakabaring dan rela jauh-jauh berangkat tour ke luar kota demi menyaksikan laga pertandingan Sriwijaya FC! Aku begitu loyal saatku merasakan cinta dan kenyamanan. Hingga setiap hari yang ku cari di internet selalu tentang seputar sepak bola. Ada salah satu lirik lagu yang membakar semangat kami... “Walau panas matahari... Walau hujan turun lagi... Kami selalu disini... Walau harus sampai mati...” Suporter, mengajarkanku untuk berbuat ikhlas tanpa pamrih! Kami tidak dibayar, juga tidak diberi makan minum gratis. Namun siap untuk mendukung sesuatu yang dicintai dengan penuh semangat dan loyalitas yang tinggi.


Ada kejadian besar yang pernahku alami, mungkin ini menjadi bagian penting dan berharga selama hidupku. Aku masih sangat-sangat ingat kejadian itu! Kejadian yang menyadarkanku, aku dibawa ke kantor polisi dan hampir dijebloskan ke penjara.

Awalnya mula kejadian. Malam itu aku dan 2 temanku “Edo Keling dan ViJe” sedang begadang diwarnet sambil menantikan pertandingan sepakbola Eropa yang akan disiarkan langsung pada jam 12 malam. Sekitar jam 11 malam, ada seorang bapak–bapak beserta rombongan anak-anaknya yang sebaya seperti kami ia datang dan memanggil temanku Edo dan ia dituduh telah mengambil paksa uang anaknya. Karena Edo tidak merasa melakukan hal itu dan tidak mungkin mau mengaku, tiba-tiba pipi nya di tampar. Keributan pun terjadi, kami pun sontak langsung keluar dan ingin membantu. Setelah ditanya dengan Edo ternyata ia bukan pelakunya ia hanya korban salah sasaran saja. Namun bukannya minta maaf, bapak yang sudah menamparnya tadi langsung pergi memakai motor beserta rombongan anaknya yang ikut berlari.

Singkat cerita, kami bertiga pun langsung mengejar dan ingin membalas! Setelah berlari jauh kami mendapatkan salah satu anak dari rombongan. lalu dengan rasa marah dan kesal, kami hakimi bertiga ditempat yang gelap dan sepi. Lantas tak tau darimana asal muasalnya kepala anak ini tadi sudah berkucur darah, kami bertiga pun panik dan saling salah-menyalahi. Spontan langsung kami bawa ke salah satu warung makan untuk meminta air untuk membersihkan kepalanya. Setelah itu temanku berdua tadi ingin mengantarkannya pulang. Namun aku lebih memilih untuk tidak ikut. Karena itu sangat berbahaya dan akan membuat permasalahan ini menjadi panjang. Akhirnya mereka pun pergi berdua mengantarkannya kerumah

Taklama kemudian, aku mendapat kabar dari teman-temanku yang bahwa temanku berdua tadi sudah dibawa ke kantor polisi dan ditahan pada malam itu juga. Sekitar jam 2 malam, aku masih berkumpul dengan temaku yang lainnya hingga tiba-tiba terdengar suara riuh kendaraan sambil teriak mencari seseorang dan sontak! semua temanku berlari mencari tempat persembunyian, termasuk aku.

Jujur... ini bukan film sinetron. Namun ini kejadian fakta.

Aku bersembunyi dibelakang gedung SD persis disamping parit. Aku pun keluar setelah suara riuh itu sepi. Ku dengar selama saat bersembunyi beberapa temanku nongkrong dibawa oleh polisi, ntah kemana.

Dalam keadaan cemas, aku langsung berlari kencang untuk pulang kerumah hingga tiba didepan lorong kulihat sudah banyak motor didepan rumah, lampu hidup dan pintu terbuka. Pikirku, tidak mungkin ada tamu di waktu tengah malam seperti ini. Sudah kusangka! ternyata temanku nongkronglah yang telah menunjukkan alamat rumahku kepada polisi untuk menangkapku malam itu juga. Akupun menunggu sampai semuanya pergi. Setelah itu aku masuk kerumah dan orangtuaku sudah menunggu-nunggu. Ternyata benar apa yang yang aku duga itu menjadi kenyataan! Dengan rasa khawatir kecewa dan marah orangtuaku menanyakan perihal kejadian ini. Aku berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya bahwa aku memang terlibat didalam perkelahian itu namun aku coba untuk meyakinkan bahwa aku tidak bersalah apalagi sampai tega melakukan hal demikian.

Kabar ini pun sampai kepada pamanku yang juga sebagai polisi. Keesokan harinya aku langsung diantarkan oleh pamanku ke Polsek Sako untuk menyelesaikan permasalahan ini secara hukum.

Inilah pengalamanku yang paling menegangkan, ketika aku sendirian harus di Interogasi oleh petugas kepolisian yang gagah dan garang diruang yang sempit dan pintu ditutup rapat! Dengan bibir yang pucat dan tubuh gemetar, puluhan pertanyaan aku jawab satu-persatu sesuai kejadian dilapangan. Tiba-tiba aku diberikan pernyataan yang sangat sulit untuk dijawab, hingga meja dibentak keras oleh pak polisi sambil matanya melotot tajam ke arahku! Pernyataannya tersebut bahwa aku dituduh sebagai “Tersangka” dalam kasus pengeroyokan dan menyebabkan luka pada bagian kepala korban. Pernyataan ini pun diperkuat oleh 2 orang saksi yaitu Edo Keling dan Vije dan sebuah Batu sebagai alat bukti. Saat itu juga aku tidak dapat berkata apa-apa lagi selain menangis tersedu-sedu sambil mengatakan bahwa aku bukanlah pelakunya. Tapi aku tidak bisa memberikan bukti dan saksi karena ditempat kejadian tersebut hanya kami bertiga bersama korban. Diakhir Interogasi, Aku terancam 2 Pasal berlapis yaitu pertama telah melakukan penganiayaan dan kedua telah memberikan keterangan palsu. Sakit rasanya! pengorbananku demi sahabat berakhir dengan pengkhiantan seperti ini.
 
Setelah di Interogasi, aku dipertemukan bersama pihak keluarga korban. Ayahnya korban sangat prihatin dengan kejadian ini apalagi ia mengetahui bahwa aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP sama seperti anaknya. Sedangkan kedua temanku sudah lama berhenti sekolah. Yang masih aku ingat, Ayahnya adalah seorang mantan preman yang begitu dikenal di daerah Kenten Laut, Banyuasin. Ayahnya berusaha untuk menyelesaikan permasalahan ini secara damai. Ia menasehatiku agar terus belajar yang rajin dan siapa tau kelak akan menjadi pemimpin. Sebenarnya ia bisa menuntut agar proses hukum ini tetap dilanjutkan, namun beliau tidak setega itu. Disinilah aku belajar toleransi, apalagi beliau adalah seorang yang ber-Agama Kristen Katolik.

Akhirnya, Kepolisian meminta surat keterangan dari Sekolah bahwa benar aku masih berstatus sebagai Pelajar. Proses hukum dihentikan, laporan pengaduan dicabut, dan kami pun sepakat berdamai secara kekeluargaan. Dengan syarat harus melakukan laporan rutin ke kantor polisi setiap seminggu sekali.

Setelah selesai, kami sekeluarga besar bersilaturahmi kerumah korban dan kedatangan kami pun disambut dengan bahagia. Namun saat itu ibuku tidak ikut bersama kami. Setelah pulang kembali kerumah, terlihat rumah sepi - sunyi, biasanya keluarga berkumpul diruang tengah sambil menonton tv bersama. namun tidak saat itu. Ditengah kesunyian itu, Aku mendengar suara isakan tangis dari dalam kamar dan setelah ku lihat, ternyata Ibuku yang sedang menangis. Spontan aku langsung mendekat dan meminta maaf sambil menangis dan berjanji untuk berubah!

Aku banyak mendapat pembelajaran dari setiap banyak kejadian yang kualami, sedikitpun aku tidak menyesal. Aku malah merasa beruntung, karena berkat kejadian inilah, aku bisa lebih selektif lagi dalam memilih kawan, belajar untuk setia kawan, dan belajar untuk tidak berkhianat dan dikhianati. Sejak itu juga aku mengurangi kebiasaanku yang sering pulang malam dan begadang. Walau kami masih kumpul dan akrab, namun kawan-kawanku telah mengerti bahwa aku ingin sedikit mengurangi kebiasaan lamaku itu.

Kisahku tidak semuanya menyedihkan. ada juga yang romantis.

Aku pernah mengenal dekat seorang siswi muslimah. Ia satu-satunya siswi di SMP yang istiqomah memakai hijab sejak dari SD. Ia sering mendapat juara kelas, tidak pernah keluar dari 3 besar. Saat itu kami sekelas di kelas VIII 1. Aku begitu mengaguminya, namun aku nyadar diri. Karena tidak mungkin orang seperti aku ini bisa dekat dengan siswi seperti itu. Sedangkan aku nakal, sering bolos, jarang buat tugas dan sering dihukum didepan kelas.

Namun ini menjadi motivasiku untuk berubah, berusaha untuk menyesuaikan diri dan menjadi yang terbaik. Singkatnya, sejak mengenalnya aku mulai sedikit demi sedikit rajin membuat tugas, menjaga penampilan, ucapan, dan tingkah laku disekolah. Ia juga sering mengingatkanku untuk melaksanakan sholat. Yaahhh.. walaupun saat itu sholatnya masih bolong-bolong dan sering diam-diam nongkrong dengan teman seperjuangan. Kalau ia tau itu, pasti marah!

Sayang seribu sayang perjumpaan kami hanya berjalan 2 tahun saja. Tepatnya setelah tamat SMP, dirinya dan keluarganya berpindah rumah ke keluar kota untuk kembali ke kampung halaman tempat kelahirannya dulu.

Sejak itu aku merasakan kesepian...

Aku berusaha untuk tegar menerima kenyataan

dan mulai berhijrah walau sendiri.

TET TET TET !!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tiba – tiba terdengar suara peringatan!

Sontak! Akupun tersadar dan terkejut!
lagu "Peterpan – Semua Tentang Kita" yang kuputar sudah tak bersuara lagi, ternyata hp ku low-bat!! oh my god!!  Mungkin karena terlalu lama memutar lagu itu secara berulang-ulang.
Hatiku terasa tenang!
Fikiranku terasa plong!
Seperti ada hal yang berbeda yang kurasakan sekarang...

Keadaan semula yang penuh bimbang, menjadi terasa enteng! mungkin setelah mengingat kembali perjalanan hidup yang penuh dinamika dan romantika itu.

kutarik nafas dalam-dalam, dan kuhembuskan dengan penuh rasa dahaga.

Akupun mengambil keputusan! dan kubulatkan tekad!
Mengikuti saran dari kakakku untuk bersekolah di SMK Muhammadiyah 1 Palembang.

Perihal itu pun disetujui oleh orang tuaku, dengan syarat harus ikut tes di sekolah negeri terlebih dahulu. Karena harus taat dengan orangtua akupun mengikuti tes disekolah negeri, walau dengan setengah hati. Bahagianya lagi... Alhamdulillah, tidak lulus.

Singkat cerita
Beberapa hari kemudian, kami langsung mendatangi SMK Muhammadiyah 1 untuk mendaftar sebagai siswa baru tahun tahun ajaran 2012 - 2013.

Setelah mendaftar dan menanti beberapa minggu, Akhirnya aku dapat memakai seragam putih abu-abu!
dan bisa menginjakkan kaki untuk pertama kali di Lapangan SMK Muhammadiyah 1 Palembang untuk mengikuti Apel dihari pertama kegiatan FORTASI yang dilaksanakan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah.



Inilah awal pertaruhanku, Sang Pelajar Pecundang !

Bagaimana kelanjutannya kisahnya ?

Tunggu buku nya yang akan launching pada tahun 2018~

Hehehe kelamaan yaahhh...

Yasudah, kita buka lembaran-lembaran kisahnya, kita baca secara gratis di Blog ini. Terus update perkembangannya. Okey?

Terimakasih kepada teman-teman pembaca yang telah setia meluangkan waktunya untuk membaca kisahku ini. Namun, Mohon maaf! Sebenarnya aku ingin melanjutkan tulisan ini. Namun sesuai dengan permintaan Asisten Konoha sebagai pengendali blogger penamusi.blogspot.com tulisan kali ini dibuat hanya saat berjumpa dengan IPM saja. Nah dikarenakan taat dengan prosedur dan tidak ingin mengecewakan. Ya, mungkin cukup sekian sampai disini dulu. I'm Sorry Brother!


“Biarlah di Awalnya, orang menganggap kita sebagai pecundang, namun yakinlah! Masih ada kesempatan kedua untuk pecundang memperbaiki diri dan akan tiba akhirnya pecundang menjadi Pemenang.” (Goresan Tinta MAS)

Jangan terbalik yaaa... hhe

Salam Inspiratif! Salam Perubahan!






Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun,
Wassalamu’alaikum. Wr.Wb


  

Sharing dan Diskusi:
No.Hp/Whatsapp : 0898-9886-015
Instagram/Twitter : @m_adityasalam
Facebook: Muhammad Aditya Salam
Pin BBM : D0DF1754

5 komentar:

  1. Secara garis besar orang dapat mengerti esensi dari cerita tsb, akan tetapi untuk menjadi tulisan yang berkualitas, penulis harus membacanya berulang kali, bahkan sampai seribu kali pun (sampai malek). Agar kita tau apa yang kekurangan dari tulisan tsb. Dari EYD, penempatan tanda baca dll. Setelah itu baru di post. Sedikit masukan.

    Tapi tidak lupa juga mengapresiasi, hehe. Senang melihat IPM semakin progresif, khususnya IPM Palembang. Budayakan lah menulis, karena dengan tulisan hidup kita akan abadi. Budayakan gerakan Al-Qal'am. Malu kalau semboyan kita Al-Qal'am tapi tidak menulis. Sekali lagi selamat atas gebrakan inspiratif ny teman2 IPM Palembang.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah. Akhirnya ada yang mau berkomentar juga. Inilah yang kami tunggu-tunggu. Terima kasih atas masukan dan apresiasinya kak Arman. Hal tersebut akan menantang dan memacu kami untuk terus belajar dan berkarya lebih baik lagi.

    Insyaa Allah, akan kami perbaiki untuk tulisan selanjutnya.

    Yakin bisa!

    "If you think can, you can. But. If you think cannot, you cannot."

    BalasHapus
  3. Ceritanya keren kak👍👍

    BalasHapus
  4. Semoga tulisan kk ini dibaca sama adek" dluar sana dan bisa membuat mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
    Dan ditunggu ya kelanjutan nya :)

    BalasHapus
  5. Kalau bisa di jadikan produk buku, kisah inspiratif kader IPM. Itu lebih keren.

    BalasHapus